Minggu, 19 Januari 2020

Kopi Bengkulu dari Tanah Bumi Rafflesia Cita Rasa Dunia



Anugerah terbesar provinsi Bengkulu sebagian besar daerahnya merupakan kawasan hutan lindung dan hutan rakyat. Baik yang berada atau berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan (TNBB) ataupun Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), yang membentang mulai dari Lampung hingga Aceh.
Mayoritas masyarakat provinsi Bengkulu berkebun. Perkebunan terbesar merupakan sawit, karet dan kopi. Masyarakat menggantungkan hidup pada potensi alam yang melimpah namun belum mampu dikelola secara baik untuk menstimulasi nilai tambah. Semua potensi masih dikelola secara ‘tradisional’ sehingga produktifitasnya sangat kecil. Saat ini, provinsi Bengkulu baru menempati posisi ketiga dari 5 daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia. Bengkulu mampu menghasilkan 88.861 ton tiap tahun. Selain itu, Bengkulu merupakan daerah segi tiga emas penghasil Robusta terbesar ketiga di pulau Sumatera setelah Sumatera Selatan dan Lampung.
Kopi Bengkulu mulai dikenal khalayak sejak beberapa tahun terakhir. Kopi Bengkulu memang memiliki kekhasan tersendiri. Selain memiliki cita rasa yang khas, Kopi juga menjadi simbol pergaulan, sampai kemudian muncul joks "sudah pada ngopi belum?". Kopi Bengkulu sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Namun karena kurang promosi, maka gaung Kopi Bengkulu baru menyeruak ke publik sejak hadirnya era digital informasi.
Sejak penjajahan, Kopi Bengkulu sudah menjadi komoditi bisnis kaum penjajah. Kala itu, penjajah Inggris menjadikan Kopi sebagai salah satu komoditi bisnis mereka. Tak hanya Inggris, pada masa peralihan dari Inggris ke Belanda yang menyebut negeri Bengkulu dengan sebutan Benkoelen, Kopi juga menjadi salah satu komoditi andalan mereka. Kejayaan Kopi di masa itu kini sudah mulai kembali tidak sekedar dikenang, namun mulai dikembangkan. Campur tangan pemimpin daerah juga menjadi dukungan bagi perkembangan komoditi Kopi. Kopi tidak hanya sekedar menjadi komoditi bisnis, namun juga simbol dan icon daerah. Dan generasi Bengkulu wajib bangga, kita punya Kopi yang khas. 
Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah menjadi simbol pemimpin yang mendukung Kopi sebagai komoditi bisnis, yang tidak hanya melokal, namun juga dicitakan mendunia. Dan menurut pengamat, itu bukan hal yang mustahil alias sangat mungkin. Pemerintah Provinsi Bengkulu bahkan telah melakukan ekspor Kopi Bengkulu perdana ke negara Timur Tengah. Ini merupakan momentum sejarah dunia Perkopian Bengkulu untuk go internasional. Kopi yang tidak hanya sekedar menjadi kawan setia bekerja, diskusi, namun juga menjadi simbol dan icon daerah sekaligus komoditi unggulan yang menghasilkan rupiah besar.
Kopi Bengkulu memiliki peluang besar menjadi komoditi unggulan Bengkulu. Budi juga bercerita tentang uniknya rasa Kopi Bengkulu yang beraneka ragam rasa. "Cita rasa Kopi Bengkulu sudah dikenal sejak zaman kolonial dan masih tetap terjaga," Budi juga menjelaskan di Bengkulu ini memproduksi Kopi Robusta, Arabika dan Liberika. Hal itu hampir sama dengan daerah lain, bedanya adalah pada cita rasanya.
Cita rasa Kopi Bengkulu dipengaruhi oleh letak geografis tanaman Kopi. Mayoritas Kopi Bengkulu ditanam di daerah pegunungan dengan basis lingkungan tanah rempah-rempah. Ada juga Kopi yang ditanam di dataran rendah, namun biasanya itu hanya untuk produksi lokal saja.  Semakin tinggi letak tanaman Kopi, maka akan semakin membuat Kopi berkualitas. Kopi yang ditaman di ketinggian 800 hingga 200 meter diatas permukaan laut akan memiliki cita rasa yang beda dan enak. Kopi Bengkulu ada rasa Lada, Sager, Gula Aren, Fruiti, Kacang Tanah, Kopi dengan rasa itu banyak ditemui di Kabupaten Kepahiang.
Kopi Bengkulu memiliki prospek bisnis masa depan. Dukungan dari pemerintah sudah jelas menjadi penguat dari sisi birokrasi dan politik. Sekedar catatan, di Eropa, Kopi menjadi tren minuman orang kelas atas. "Zaman Belanda dulu, Kopi hanya disuguhkan bagi para bangsawan," Era dimulainya ekspor Kopi Bengkulu menjadi momentum bersejarah, hal itu selaras dengan meningkatnya permintaan Kopi di dunia. Bulan April 2019 nanti menjadi hari bersejarah bagi dunia Perkopian di Bengkulu, bagaimana Kopi Bengkulu mencoba kembali mendunia.
Hal yang menarik yakni di akhir tahun 2019 lalu, kopi Bengkulu berhasil pemberoleh penghargaan di 3 kategori awards pada Kejuaraan Kopi Internasional AVPA (Agency for the Valorization of the Agricultural Products) di Perancis. Bahkan presiden AVPA (Agency for the Valorization of the Agricultural Products), Philippe Juglar apresiasi langkah Gubernur Rohidin dalam mengembangkan komoditas kopi Bengkulu sehingga dapat bersaing dengan kualitas dan kuantitas yang tidak kalah dengan kopi negara produsen lain. Kemudian, secara resmi ditetapkan sebagai tuan rumah International Coffee Day pada tanggal 01 Oktober 2020.
Internasional Coffee Day 2020 pada bulan Oktober yang akan datang harus disambut sebagai momentum besar bagi petani dan pelaku kopi Bengkulu.Pasalnya, terang Gati, Bengkulu menjadi tuan rumah persis ketika permintaan pasar terhadap kopi meningkat drastis. Baik di pasar domistik maupun internasional.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar