Puji Haryadi Mulyana Sukma
(190820279)
Mata Kuliah Komunikasi
Pariwisata 13F3
Program Studi Ilmu
Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia
Universitas Mercu Buana
Yogyakarta
ABSTRAK
Ensamble dol
merupakan rangkaian musik untuk mengiringi dan sebagai pelengkap dalam upacara tabot.
Berdasarkan aktivitas dan interaksi masyarakat Bengkulu mengenai peran musik
dol tersebut, permasalahan untuk diteliti, yakni bagaimana perkembangan musik dol
di kota Bengkulu. Adapun metode dalam penelitian ini adalah deskriptif
kualitatif untuk membantu membahas masalah tersebut dan memfokuskan deskripsi
analisis. Perkembangan yang terjadi pada musik dol setelah dilakukan
penelitian yakni pertama : musik dol yang sebelumnya sebagai media
pendukung dalam suatu upacara, beralih fungsi menjadi sebuah pertunjukan
komposisi musik yang disajikan untuk mengisi acara-acara umum di kota Bengkulu.
Kedua : musik dol sebagai instrumen pelengkap dalam komposisi garapan
baru. Ketiga : musik dol juga dijadikan sebagai bahan ajar di Sekolah
dan Sanggar, hal ini berfungsi sebagai upaya pewarisan terhadap generasi baru
dan juga merupakan upaya mendapatkan identitas kesenian tradisi kota Bengkulu
serta menjadi aset bagi pariwisata kota Bengkulu.
Kata Kunci : Tabot, Perkembangan Musik dol, Kota Bengkulu
1. PENDAHULUAN
Kota
Bengkulu merupakan salah satu daerah di pulau sumatra yang penduduknya juga
terbentuk atas latarbelakang budaya melayu. Bentuk dari warisan budaya melayu
yang berkembang dan dilestarikan tersebut adalah upacara tabot. Upacara tabot
merupakan upacara tradisional
masyarakat Bengkulu yang dilaksanakan setiap tahun, tepatnya pada tanggal 1-10
Muharram. Upacara ini bertujuan untuk mengenang wafatnya Husein cucu Nabi
Muhammad SAW dalam perang tak seimbang pada saat perang antara kaum syi’ah
dengan kaum Bani Umayah yang dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah serta Ubaidillah
bin Ziyad di Padang Karbela wilayah Irak pada tahun 61 Hijriah atau sekitar 680
M (Badrul Munir, 1993 : 63).
Pada
awalnya upacara ini hanya dilakukan oleh keluarga Tabot (sipai), yakni
masyarakat keturunan India yang datang ke Bengkulu dan bekerja pada pasukan
Inggris sekitar tahun 1600-an untuk membangun benteng Marborought. Akhirnya
para pekerja tersebut berasimilasi
dengan masyarakat Bengkulu sambil berdakwah menyebarkan agama Islam dan
sebagian dari mereka juga melalukan perayaan atas wafatnya husein. Hasil
pencampuran dua budaya tadilah yang dinamakan dengan upacara tabot.
Sebagai
satu kesatuan upacara, upacara tabot dibentuk oleh bagian-bagian yang terangkai
dalam bentuk tahapan-tahapan upacara. Beberapa tahapan tersebut ialah mengambik
tanah, duduk penja, arak penja, arak jari-jari, menjara, meradai, arak sorban,
tabot besanding dan tabot tebuang. Keseluruhan tahapan upacara tersebut
dilaksanakan sesuai dengan kelengkapan aspek-aspek pendukungnya.
Adapun
salah satu pendukung dalam pelaksanaan upacara tabot adalah musik dol. Musik
dol (ensambel musik dol) terdiri dari dol, tassa dan seruling. Biasanya musik
dol di gunakan pada upacara tahap ke empat yakni upacara menjara, namun upacara
ini juga kerap mengisi tahap upacara yang lainnya seperti upacara arak
jari-jari, arak sorban, tabot besanding dan tabot tebuang. Sebaliknya tidak hanya masyarakat Bengkulu
yang melaksanakan upacara tabot, masyarakat dari daerah lain juga merayakan
tabot. Seperti daerah Aceh, Sumatra Barat meliputi Pariaman dan Padangpanjang.
Namun oleh karena pergerakan budaya sangat dinamis sehingga terjadilah
perkembangan atau kepunahan oleh masyarakat pendukungnya, maka yang hanya
melaksanakan perayaan tersebut hanya di Bengkulu dan Pariaman Sumatra barat.
Bagi masyarakat Pariaman, upacara tabot sering disebut dengan upacara Tabuik.
Dalam upacara tersebut, juga terdapat gandang tambua yang menjadi salah satu
aspek pendukung dalam memeriahkan upacara tabuik (Asril Muchtar, 2002 : 131).
Pada dasarnya gandang tambua dan dol mempunyai kesamaan fungsi dan kegunaan
namun berbeda dalam bentuk instrumen.
Hal
yang menarik terlepas dari konteks ritual upacara, bahwa dol juga digunakan
sebagai kesenian tradisi masyarakat Bengkulu, sebagai instrument yang bisa
dikembangkan sesuai kebutuhan senimannya, serta sebagai instrumen yang
digunakan pada setiap acara ceremonial di Kota Bengkulu, seperti acara
penyambutan tamu-tamu penting dan sebagainya.
Berdasarkan
latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas, dapat dirumuskan beberapa
permasalahan yakni “Bagaimana perkembangan musik dol di kota Bengkulu”. Maka
penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana perkembangan musik
dol di kota Bengkulu.
2. Kajian Pustaka
- Adrian
Asthon, The Bass Handbook, The Back Beat Book, San Francisco, 2005. Buku
ini menjelaskan berbagai teknik slap yang akan digunakan dalam penerapan
ritme dol.
- Dan
Dean, “Electric Bass; new method vol 1”,
Hal Leonard, Winona, 1982. Berguna sebagai landasan teori dasar
teknik permainan bass yang akan diterapkan kedalam pola ritme dol.
- Ronald
Pohan, Seni Musik Dol
dan Tassa
di Bengkulu, Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan,
Bengkulu, 1987. Buku ini
memberikan penjelasan tentang upacara perayaan Tabot,
sejarah masuknya pengaruh
Tabot di Bengkulu, penjelasan dan
pengenalan alat musik yang digunakan dalam
musik dol
serta keterlibatan musik Dol dalam
perayaan Tabot.
3. Metodologi Penelitian
Dalam
penelitian ini, penulis memilih penelitian deskriptif kualitatif sebagai salah
satu penelitian yang dipandang baik untuk membantu membahas masalah tersebut,
dan memfokuskan deskripsi analisis sebagai pilihan yang tepat
yang dipakai dalam karya ilmiah ini. Metode deskripsi analisis yang dimaksudkan
dalam penelitian
ini adalah menguraikan permasalahan setelah melakukan pengumpulan data yang
diperoleh dari hasil penelitian maupun hasil wawancara dilanjutkan dengan
mentranskripsikan serta menganalisa dengan pendekatan teori yang berhubungan
dengan tulisan ini, kemudian menyusun dalam bentuk tulisan ilmiah.
4.
Pembahasan
Bentuk Musik Dol Di Kota
Bengkulu
Seiring
berjalan waktu, dol mencapai suatu proses pengembangan dan penyelamatan
identitas. Cara ini lah yang tepat, agar fungsi dan rasanya masih tetap
dirasakan oleh para penikmatnya. Dengan kata lain dibutuhkan suatu pewarisan
terhadap generasi-generasi baru bahkan dengan bentuk-bentuk yang baru dalam hal
ini bentuk instrument, melodi/ritme dan bentuk pertunjukan serta
perkembangannya di Kota Bengkulu.
Dol adalah sejenis beduk yang terbuat
dari bongkol tempat akar kelapa yang ditutupi kulit lembu atau kerbau, dan
dibunyikan dengan memakai alat pukul yang terbuat dari kayu yang dilapisi kain.
Gendang besar ini dibawa oleh orang Benggali dari India bersamaan dengan tabot.
Bentuknya seperti tempayan besar, dengan bagian atas dipotong rata dan bagian
bawahnya tidak berlubang. Bahannya terbuat dari bonggol kelapa yang sudah tua,
namun pada saat ini telah dipakai pula bonggol pohon nangka atau pohon
cempedak (Manalu luhut Dkk, 1995 : 35). Dol termasuk dalam instrumen
klasifikasi membranophone yaang getaran suara atau bunyinya berasal dari kulit
(kulit lembu atau kerbau), dimainkan dengan cara dipukul dengan tangan kanan
dan kiri. Tampilan fisik luar dari dol diwarnai dengan corak warna-warna terang
seperti merah, hijau dan kuning menyala agar kelihatan lebih menarik. Dalam
upacara tabot ada tiga repertoar lagu dol yaitu motif Tamatam, Suwena dan
Suweri. Ketiga repertoar lagu ini berperan sebagai musik pengiring dalam
upacara tabot khususnya upacara menjara dan melengkapi kebutuhan upacara
lainnya.
Fungsi
Dol di Kota Bengkulu
Dalam
upacara tabot, dol digunakan sebagai musik pendukung dalam upacara. Dol
disajikan pada upacara arak sorban, menjara, tabot besanding dan
tabot tebuang. Dalam hal ini, dol merupakan bagian dari prosesi upacara
yang sangat penting yang tak terpisahkan dari upacara tabot, selain
memenuhi kebutuhannya dalam mengiringi rangkaian upacara agar rangkaian
upacara tersebut menjadi lengkap. Fungsi pertama dol dalam upacara tabot
adalah mengiringi proses kegiatan mengarak sorban. Fungsi dol
yang kedua mengiringi kegiatan upacara menjara. Fungsi yang ketiga
adalah sebagai musik hiburan dalam upacara tabot besanding. Adapun
bentuk acara yang dikonsep oleh panitia pelaksana, yakni berupa
komposisi musik yang dikemas dengan
reportoar lagu dol dipadu dengan kesenian tradisi di kota Bengkulu.
Sajian musik dol lainnya adalah musik iringan tari Melayu Bengkulu, dalam
hal ini dol hanya sebagai pelengkap media instrumen dan mengiringi musik
dari tari-tarian tersebut. Fungsi yang terakhir adalah mengiringi upacara tabot
tebuang. Dalam hal ini musik dol digunakan dalam bentuk arak-arakan
oleh masing-masing kelompok tabot. Mereka mengarak tabot dengan
diiringi motif-motif dol menuju tempat pembuangan tabot. Selain fungsinya untuk mengiring upacara,
music dol juga berfungsi menghibur masyarakat
kota Bengkulu yang mengikuti proses tabot tebuang.
Dol
sebagai Media Seremonial di Kota Bengkulu
Dol di
luar dari konteks upacara tabot, berfungsi sebagai musik yang digunakan untuk
mengisi acara-acara yang bersifat umum di Kota Bengkulu. Adapun acara tersebut
yakni acara penyambutan tamu-tamu penting, acara ulang tahun kota Bengkulu,
acara menyambut hari kemerdekaan
Republik Indonesia dan acara-acara besar lainnya di kota Bengkulu. Berdasarkan
hasil pengamatan yang dilakukan, bahwa perkembangan dol terus meningkat dan
mengalami kemajuan. serta kehadirannya direspon baik oleh pendukungnya. Dol
sebagai musik tradisi yang berfungsi sebagai media seremonial dan menjelma
menjadi suatu identitas kesenian dari daerah Bengkulu tersebut, telah mampu
memberikan kekuatan musik yang ekspresif dan dinamis dengan ritmenya yang
menghentak-hentak sehingga mampu membangkitkan emosi bagi siapa saja yang menyaksikannya.
Adapun
bentuk penyajian musik dol sebagai sebuah kebutuhan acara yang bersifat
seremonial biasanya tidak terlepas dari reportoar lagu yang digabung dengan
repertoar musik tradisi lainnya seperti gendang serunai dan musik gamat melayu.
Misalnya pada perayaan ulang tahun kota Bengkulu, oleh para seniman tradisi
yang berasal dari kota Bengkulu, musik dol dikemas dalam bentuk komposisi musik
yang berangkat dari reportoar lagu yang dipadu dengan kesenian tradisi lainnya.
Dalam hal ini agar tercipta sebuah komposisi musik dengan suasana dan konsep
yang berbeda dari sebelumnya. Selain itu, sebagai upaya pelestarian kesenian
tradisi musik dol agar dapat bermanfaat dan dilestarikan oleh masyarakat Bengkulu.
Dol
Sebagai Materi Pembelajaran di Sekolah dan Sanggar
Seiring
berjalannya waktu, dol mencapai suatu proses perkembangan berdasarkan fungsi
dalam kebutuhannya sebagai musik upacara dan sebagai musik pelengkap acara yang
bersifat seremonial di kota Bengkulu. Agar aktifitas kesenian tradisi itu terus
berjalan, maka dibutuhkan suatu pewarisan terhadap generasi-generasi baru yang
nantiya akan mewarisi kesenian tradisi tersebut.
Adapun
bentuk pengembangan dol saat ini adalah digunakan untuk bahan ajar mata
pelajaran kesenian dan pelajaran ektrakurikuler SMP dan SMA di kota Bengkulu.
Dalam hal ini, penulis mengambil contoh salah satu Sekolah Menengah Pertama
(SMP) di kota Bengkulu. Adapun proses yang diajarkan adalah sebagai berikut.
- Mengenai
latar belakang sejarah upacara tabot, prosesi upacara tabot, maksud dan
tujuan upacara tabot, waktu dan tempat penyelenggaraan upacara tabot.
- Mengenai
persiapan dan
perlengkapan
upacara tabot.
- Siswa
mempelajari tari-tarian dalam upacara tabot
- Siswa mempelajari motif dol dalam upacara
tabot beserta Lagunya (Tamatam,Suwena,
Suweri) dan memainkan melodi dan ritmenya.
- Membuat kerajinan tangan berupa bangunan tabot dan yang
berhubungan dengan upacara tabot.
Sebagai hasil dari proses belajar, biasanya setiap akhir pergantian
kenaikan kelas diadakan Pentas Seni atau Pensi. Tujuan dari acara ini adalah
untuk melihat sejauh mana para siswa memahami dan menguasai budaya tabot. Isi
dari acara pentas seni adalah para siswa mempraktekkan bagaimana cara bermain
dol dan mempraktekkan tari-tarian tabot yang mereka dapatkan di sekolah.
Berdasarkan
penjelasan di atas, pengembangan dol pada hakekatnya adalah upaya pelestarian
budaya agar terus hidup dan berkembang. Musik dol sebagai bahan ajar di Sekolah
adalah usaha untuk mempertahankan kesenian tradisi upacara tabot agar dikenal
oleh generasi muda dan generasi baru berikutnya.
Bentuk
lain dari pengembangan musik dol lainnya adalah kegiatan sanggar atau komunitas
yang berada dalam wilayah pariwisata kota Bengkulu dan yang berdiri sendiri tanpa
campur tangan pemerintah.
Aktivitas
yang dilakukan oleh sanggar tersebut adalah berlatih memainkan dol dan melatih
tari-tarian dari daerah Bengkulu. Salah satu contoh sanggar yang masih eksis
dan sedang gencar-gencarnya mempromosikan kesenian tradisi dol dan kesenian
tradisi lainnya di kota Bengkulu adalah sanggar Mayangsari. Dari beberapa
sanggar yang ada di kota Bengkulu sanggar Mayangsari memang sedang mendapat
perhatian khusus dari pemerintah kota
Bengkulu.
Prestasi yang telah diperoleh oleh sanggar Mayangsari yakni mampu
memperkenalkan dol kepada masyarakat luar Bengkulu untuk dipelajari sebagai
wawasan seni dan sebagai tontonan dari sebuah pertunjukan seni. Proses yang
dilakukan oleh sanggar Mayangsari tersebut, juga merupakan cara mempertahankan
dan mengembangkan kesenian tradisi musik dol agar tidak punah.
Dol
sebagai Sumber Garapan Komposisi Baru
Dalam
kurun waktu yang lama musik dol mengalami perkembangan sesuai dengan
kebutuhannya. Adanya proses perkembangan itu disebabkan oleh perubahan kebudayaan yang berarti (William
Haviland, 1988 : 263). Maksud dari perubahan dalam tulisan ini adalah
perkembangan yang berarti bagi para pendukungnya agar kesenian ini dapat terus
bertahan dan bermanfaat bagi kesenian itu sendiri. Dol sama dengan musik
tradisi lainnya juga harus dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya,
sehingga nantinya musik tradisi ini akan terus berkembang dengan baik.
Berdasarkan pemahaman di atas, dol sebagai alat
musik tradisi, juga mengalami perkembangan yang akhirnya mengikuti fungsi dan
bentuk yang terjadi pada gandang tambua di Pariaman Sumatra Barat. Adapun
bentuk-bentuk perkembangan musik dol di kota Bengkulu dapat dilihat dari konsep
musik, instrumen, pemain dan tempat penyajiannya. Dalam komposisi, konsep utama
musik dol adalah tiga lagu dalam reportoar upacara tabot yang kemudian berkembang sesuai
dengan konsep dan keinginan komposer. Pengembangan yang terjadi, berada pada
wilayah ritme yakni adanya penambahan motif-motif baru dalam ketiga lagu dol
dan penambahan melodi yang bersifat mengiringi ritme dalam komposisi dol. Perkembangan
yang terjadi terhadap instrumen dalam komposisi dol yakni adalah penambahan
instrumen baru seperti seperangkat dol kecil, gendang buatan yang berasal dari
pipa paralon dan berukuran kecil. Sehingga dalam penambahan instrumen tersebut,
fluit yang biasanya digunakan untuk memberikan aba-aba, tidak lagi digunakan
dalam komposisi dol.
Sumber daya manusia yang dapat bergerak melalui
ruang dan waktu, dan bertindak sebagai pelaku seni atau seniman. Dalam sebuah
pertunjukan seni, pemain adalah factor pendukungnya. Pemain dapat merasakan
adanya kontak batin terhadap sistem norma dan nilai dari suatu kebudayaan serta
subjek yang sedang dilakukannya maka pemain akan melakukannya berdasarkan proses
yang terus berlangsung dari generasi sebelumnya hingga generasi berikutnya.
Dalam proses tersebut budaya pun berubah oleh
karena budaya bersifat dinamis, maka pemain mengikuti alur yang telah terjadi
di sekelilingnya. Perubahan ini adalah salah satu cara agar suatu kebudayaan
itu akan
terus hidup dan berkembang maka pemain atau sebagai pelaku harus mengikuti alur
sesuai dengan kebutuhan komposisi dol.
Sesuai dengan kebutuhannya, dewasa ini bentuk
perkembangan dalam segi pemain musik dol, adalah anak-anak dan remaja.
Anak-anak dan para remaja lebih menguasai dan mengekspresikan gaya dalam
bermain dol. Sementara orang yang telah berumur hanya bertindak sebagai pelatih
atau bertindak sebagai pengajar. Hal ini dapat dilihat pada saat permainan dol
sedang berlangsung, anak-anak sangat agresif dan bersemangat dan lebih ekspresif dari pada
orang-orang dewasa pada umumnya, yang terkesan monoton dan biasa-biasa saja.
Umumnya anak-anak yang bermain dol, adalah pelajar dan anggota sanggar. Setiap
akhir pekan mereka berlatih menabuh dol untuk mengikuti acara atau festival
kesenian di dalam maupun di luar kota Bengkulu. Setelah ditelusuri lebih jauh
dorongan semangat yang diciptakan atas pukulan-pukulan yang dinamis akhirnya
mengundang para perempuan yang bergelut di dunia seni untuk ikut memeriahkan
pertunjukan tersebut. Berdasarkan pengamatan yang terjadi, hal ini mengundang para perempuan
untuk dapat memainkan dan
mengaplikasikan musik tradisi tersebut.
Pertunjukan dol biasanya
dapat dinikmati ketika adanya perayaan upacara tabot oleh karena
fungsinya dol sebagai pelengkap dan pendukung dari proses upacara tersebut. Contohnya pada saat menjara,
yang intinya adalah acara bertanding dol. Adapun Bentuk pertunjukan dol
pada saat upacara tersebut yakni saling mengarak atau saling berkunjung
antara kelompok tabot yang paling tua dan kelompok tabot yang
paling muda. Dalam kompetisi ini, mereka saling memperlihatkan ketangguhan
dalam bermain dol. Pertunjukan dol tersebut biasanya diadakan di
lapangan terbuka di Kota Bengkulu ( lapangan merdeka Bengkulu).
Namun kurun waktu sepuluh tahun ini,
dol menjelma menjadi instrument yang lebih berenergi dan sangat agresif. Hal
ini tampak jelas pada acara festival music di solo berapa tahun yang lalu.
Ketika instrument ini bergabung dengan music yang lebih bersifat popular
seperti music pop dan music jazz. Pertunjukan komposisi dol tersebut diringi
oleh gitar elektrik, gitar bass serta seksophone. Dalam pertunjukan tersebut
juga diisi dengan atraksi angkat dol. Maksudnya adalah beberapa pemain menabuh
dol dengan cara mengangkatnya. Hal ini sungguh berbeda dari biasanya dan tak
tampak bahwa instrumen tersebut berasal dari upacara ritual.
Pertunjukan dol dengan kemasan yang
lebih menarik tersebut ternyata juga diikuti oleh regenerasi baru (anak-anak).
Mereka bermain pada acara festival anak Nusantara di Taman Mini Indonesia.
Permainan motif ritme dan pukulan dol yang bersifat dinamis dan bersemangat
juga canda tawa mereka menambah natural komposisi dol
tersebut. Pada saat
itu juga
tampak adanya bentuk perkembangan pada instrumen dol yakni terdapat dol yang
ukurannya kecil dan berfungsi sebagai pelengkap dalam komposisi dol bentuk
garapan baru.
Pada
akhirnya dol yang tadinya digunakan sebagai media spritual untuk mendukung
upacara tabot, beralih fungsi untuk mengisi acara-acara yang sifatnya
ceremonial dan sebagai hiburan. Hal ini tidak jauh bedanya dengan gandang
tambua yang berada di Pariaman yang sudah sejak lama beralih fungsi sebagai
kesenian tradisi masyarakat Pariaman khususnya dan Sumatra barat pada umumnya.
Sehingga makna dan fungsi yang awalnya sebagai ekpresif dari perang yang
terjadi di karbela telah berubah menjadi fungsi hiburan bagi masyarakat
pendukungnya.
5. Kesimpulan
Hasil dari pembahasan Perkembangan Musik Dol di Kota Bengkulu,
melahirkan berbagai makna yang terkonteks dalam perilaku-perilaku budaya. Hal
ini disebabkan oleh suatu perubahan yang menginginkan music tradisi itu
berkembang sesuai dengan kebutuhannya.
Untuk melihat perkembangan terhadap prilaku tersebut, maka dapat disimpulkan
berdasarkan fungsi dan bentuknya. Antara lain sebagai berikut.
- Musik dol digunakan sebagai sarana ritual
- Musik dol sebagai presentasi estetis dan
pengikat solidaritas antar sesama masyarakat di kota Bengkulu serta
sebagai upaya pewarisan.
- Musik dol sebagai media seremonial di kota
Bengkulu
- Musik dol sebagai materi pembelajaran di
Sekolah dan Sanggar
- Musik dol sebagai sumber garapan komposisi
baru
Perkembangan yang terjadi pada dol akhirnya
mencapai suatu kepuasan bagi pemerintah kota Bengkulu, dan bagi masyarakat pada
umumnya. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur estetisnya dan pengikat
solidaritas antar masyarakat kota Bengkulu serta sebagai musik dan instrumen
yang memberikan warna baru terhadap pengembangan musik tradisi. Sehingga terwujudnya
pelestarian dan pengembangan budaya agar kesenian tradisi tersebut dapat terus
bertahan.
Selain itu dapat diketahui bahwa perkembangan yang
terjadi pada dol bisa membawa dampak positif dan membuka peluang yang bagus
bagi para seniman untuk lebih bebas dalam berkarya. Walaupun tadinya dol hanya
digunakan pada acara ritual, namun dengan perkembangan tersebut dapat mencegah
adanya penurunan atau krisis kepunahan terhadap instrumen atau kesenian
tradisi.
DAFTAR
PUSTAKA
Asril.2002.
Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman Sumatra
Barat.Tesis,Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Asril, Muctar . 2004. Upacara Tabuik dari Ritual Heroik ke Pertunjukan
Heriok dalam Seni Tradisi
Menantang Perubahan. Padangpanjang:
Bunga Rampai STSI.
Hadi Y, Sumandyio.
2006. Seni Dalam Ritual Agama. Yogyakarta: Pustaka.
Hanefi. 2002. Buku Ajar Musikologi Nusantara III. Padangpanjang:
Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI).
Martani, Marjani dkk. 1976. “Ensklopedia
Musik dan Tari Daerah Sumatra Barat
Padang,” dalam Studi Komparatif Musik Dol dalam Upacara Tabot Dikota Bengkulu
oleh Luhut Manalu DEPDIKBUD. Bengkulu: Taman Budaya.