Minggu, 19 Januari 2020

Kopi Bengkulu dari Tanah Bumi Rafflesia Cita Rasa Dunia



Anugerah terbesar provinsi Bengkulu sebagian besar daerahnya merupakan kawasan hutan lindung dan hutan rakyat. Baik yang berada atau berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Bukit Barisan (TNBB) ataupun Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), yang membentang mulai dari Lampung hingga Aceh.
Mayoritas masyarakat provinsi Bengkulu berkebun. Perkebunan terbesar merupakan sawit, karet dan kopi. Masyarakat menggantungkan hidup pada potensi alam yang melimpah namun belum mampu dikelola secara baik untuk menstimulasi nilai tambah. Semua potensi masih dikelola secara ‘tradisional’ sehingga produktifitasnya sangat kecil. Saat ini, provinsi Bengkulu baru menempati posisi ketiga dari 5 daerah penghasil kopi terbesar di Indonesia. Bengkulu mampu menghasilkan 88.861 ton tiap tahun. Selain itu, Bengkulu merupakan daerah segi tiga emas penghasil Robusta terbesar ketiga di pulau Sumatera setelah Sumatera Selatan dan Lampung.
Kopi Bengkulu mulai dikenal khalayak sejak beberapa tahun terakhir. Kopi Bengkulu memang memiliki kekhasan tersendiri. Selain memiliki cita rasa yang khas, Kopi juga menjadi simbol pergaulan, sampai kemudian muncul joks "sudah pada ngopi belum?". Kopi Bengkulu sebenarnya sudah dikenal sejak lama. Namun karena kurang promosi, maka gaung Kopi Bengkulu baru menyeruak ke publik sejak hadirnya era digital informasi.
Sejak penjajahan, Kopi Bengkulu sudah menjadi komoditi bisnis kaum penjajah. Kala itu, penjajah Inggris menjadikan Kopi sebagai salah satu komoditi bisnis mereka. Tak hanya Inggris, pada masa peralihan dari Inggris ke Belanda yang menyebut negeri Bengkulu dengan sebutan Benkoelen, Kopi juga menjadi salah satu komoditi andalan mereka. Kejayaan Kopi di masa itu kini sudah mulai kembali tidak sekedar dikenang, namun mulai dikembangkan. Campur tangan pemimpin daerah juga menjadi dukungan bagi perkembangan komoditi Kopi. Kopi tidak hanya sekedar menjadi komoditi bisnis, namun juga simbol dan icon daerah. Dan generasi Bengkulu wajib bangga, kita punya Kopi yang khas. 
Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah menjadi simbol pemimpin yang mendukung Kopi sebagai komoditi bisnis, yang tidak hanya melokal, namun juga dicitakan mendunia. Dan menurut pengamat, itu bukan hal yang mustahil alias sangat mungkin. Pemerintah Provinsi Bengkulu bahkan telah melakukan ekspor Kopi Bengkulu perdana ke negara Timur Tengah. Ini merupakan momentum sejarah dunia Perkopian Bengkulu untuk go internasional. Kopi yang tidak hanya sekedar menjadi kawan setia bekerja, diskusi, namun juga menjadi simbol dan icon daerah sekaligus komoditi unggulan yang menghasilkan rupiah besar.
Kopi Bengkulu memiliki peluang besar menjadi komoditi unggulan Bengkulu. Budi juga bercerita tentang uniknya rasa Kopi Bengkulu yang beraneka ragam rasa. "Cita rasa Kopi Bengkulu sudah dikenal sejak zaman kolonial dan masih tetap terjaga," Budi juga menjelaskan di Bengkulu ini memproduksi Kopi Robusta, Arabika dan Liberika. Hal itu hampir sama dengan daerah lain, bedanya adalah pada cita rasanya.
Cita rasa Kopi Bengkulu dipengaruhi oleh letak geografis tanaman Kopi. Mayoritas Kopi Bengkulu ditanam di daerah pegunungan dengan basis lingkungan tanah rempah-rempah. Ada juga Kopi yang ditanam di dataran rendah, namun biasanya itu hanya untuk produksi lokal saja.  Semakin tinggi letak tanaman Kopi, maka akan semakin membuat Kopi berkualitas. Kopi yang ditaman di ketinggian 800 hingga 200 meter diatas permukaan laut akan memiliki cita rasa yang beda dan enak. Kopi Bengkulu ada rasa Lada, Sager, Gula Aren, Fruiti, Kacang Tanah, Kopi dengan rasa itu banyak ditemui di Kabupaten Kepahiang.
Kopi Bengkulu memiliki prospek bisnis masa depan. Dukungan dari pemerintah sudah jelas menjadi penguat dari sisi birokrasi dan politik. Sekedar catatan, di Eropa, Kopi menjadi tren minuman orang kelas atas. "Zaman Belanda dulu, Kopi hanya disuguhkan bagi para bangsawan," Era dimulainya ekspor Kopi Bengkulu menjadi momentum bersejarah, hal itu selaras dengan meningkatnya permintaan Kopi di dunia. Bulan April 2019 nanti menjadi hari bersejarah bagi dunia Perkopian di Bengkulu, bagaimana Kopi Bengkulu mencoba kembali mendunia.
Hal yang menarik yakni di akhir tahun 2019 lalu, kopi Bengkulu berhasil pemberoleh penghargaan di 3 kategori awards pada Kejuaraan Kopi Internasional AVPA (Agency for the Valorization of the Agricultural Products) di Perancis. Bahkan presiden AVPA (Agency for the Valorization of the Agricultural Products), Philippe Juglar apresiasi langkah Gubernur Rohidin dalam mengembangkan komoditas kopi Bengkulu sehingga dapat bersaing dengan kualitas dan kuantitas yang tidak kalah dengan kopi negara produsen lain. Kemudian, secara resmi ditetapkan sebagai tuan rumah International Coffee Day pada tanggal 01 Oktober 2020.
Internasional Coffee Day 2020 pada bulan Oktober yang akan datang harus disambut sebagai momentum besar bagi petani dan pelaku kopi Bengkulu.Pasalnya, terang Gati, Bengkulu menjadi tuan rumah persis ketika permintaan pasar terhadap kopi meningkat drastis. Baik di pasar domistik maupun internasional.

MUSIK DOL KEKAYAAN BUDAYA PROVINSI BENGKULU




Puji Haryadi Mulyana Sukma (190820279)
Mata Kuliah Komunikasi Pariwisata 13F3
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia
Universitas Mercu Buana Yogyakarta

ABSTRAK

Ensamble dol merupakan rangkaian musik untuk mengiringi dan sebagai pelengkap dalam upacara tabot. Berdasarkan aktivitas dan interaksi masyarakat Bengkulu mengenai peran musik dol tersebut, permasalahan untuk diteliti, yakni bagaimana perkembangan musik dol di kota Bengkulu. Adapun metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif untuk membantu membahas masalah tersebut dan memfokuskan deskripsi analisis. Perkembangan yang terjadi pada musik dol setelah dilakukan penelitian yakni pertama : musik dol yang sebelumnya sebagai media pendukung dalam suatu upacara, beralih fungsi menjadi sebuah pertunjukan komposisi musik yang disajikan untuk mengisi acara-acara umum di kota Bengkulu. Kedua : musik dol sebagai instrumen pelengkap dalam komposisi garapan baru. Ketiga : musik dol juga dijadikan sebagai bahan ajar di Sekolah dan Sanggar, hal ini berfungsi sebagai upaya pewarisan terhadap generasi baru dan juga merupakan upaya mendapatkan identitas kesenian tradisi kota Bengkulu serta menjadi aset bagi pariwisata kota Bengkulu.

Kata Kunci : Tabot, Perkembangan Musik dol, Kota Bengkulu

1.    PENDAHULUAN

Kota Bengkulu merupakan salah satu daerah di pulau sumatra yang penduduknya juga terbentuk atas latarbelakang budaya melayu. Bentuk dari warisan budaya melayu yang berkembang dan dilestarikan tersebut adalah upacara tabot. Upacara tabot merupakan upacara     tradisional masyarakat Bengkulu yang dilaksanakan setiap tahun, tepatnya pada tanggal 1-10 Muharram. Upacara ini bertujuan untuk mengenang wafatnya Husein cucu Nabi Muhammad SAW dalam perang tak seimbang pada saat perang antara kaum syi’ah dengan kaum Bani Umayah yang dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah serta Ubaidillah bin Ziyad di Padang Karbela wilayah Irak pada tahun 61 Hijriah atau sekitar 680 M (Badrul Munir, 1993 : 63).
Pada awalnya upacara ini hanya dilakukan oleh keluarga Tabot (sipai), yakni masyarakat keturunan India yang datang ke Bengkulu dan bekerja pada pasukan Inggris sekitar tahun 1600-an untuk membangun benteng Marborought. Akhirnya para pekerja tersebut            berasimilasi dengan masyarakat Bengkulu sambil berdakwah menyebarkan agama Islam dan sebagian dari mereka juga melalukan perayaan atas wafatnya husein. Hasil pencampuran dua budaya tadilah yang dinamakan dengan upacara tabot.
Sebagai satu kesatuan upacara, upacara tabot dibentuk oleh bagian-bagian yang terangkai dalam bentuk tahapan-tahapan upacara. Beberapa tahapan tersebut ialah mengambik tanah, duduk penja, arak penja, arak jari-jari, menjara, meradai, arak sorban, tabot besanding dan tabot tebuang. Keseluruhan tahapan upacara tersebut dilaksanakan sesuai dengan kelengkapan aspek-aspek pendukungnya.
Adapun salah satu pendukung dalam pelaksanaan upacara tabot adalah musik dol. Musik dol (ensambel musik dol) terdiri dari dol, tassa dan seruling. Biasanya musik dol di gunakan pada upacara tahap ke empat yakni upacara menjara, namun upacara ini juga kerap mengisi tahap upacara yang lainnya seperti upacara arak jari-jari, arak sorban, tabot besanding dan tabot tebuang. Sebaliknya         tidak    hanya  masyarakat       Bengkulu yang melaksanakan upacara tabot, masyarakat dari daerah lain juga merayakan tabot. Seperti daerah Aceh, Sumatra Barat meliputi Pariaman dan Padangpanjang. Namun oleh karena pergerakan budaya sangat dinamis sehingga terjadilah perkembangan atau kepunahan oleh masyarakat pendukungnya, maka yang hanya melaksanakan perayaan tersebut hanya di Bengkulu dan Pariaman Sumatra barat. Bagi masyarakat Pariaman, upacara tabot sering disebut dengan upacara Tabuik. Dalam upacara tersebut, juga terdapat gandang tambua yang menjadi salah satu aspek pendukung dalam memeriahkan upacara tabuik (Asril Muchtar, 2002 : 131). Pada dasarnya gandang tambua dan dol mempunyai kesamaan fungsi dan kegunaan namun berbeda dalam bentuk instrumen.
Hal yang menarik terlepas dari konteks ritual upacara, bahwa dol juga digunakan sebagai kesenian tradisi masyarakat Bengkulu, sebagai instrument yang bisa dikembangkan sesuai kebutuhan senimannya, serta sebagai instrumen yang digunakan pada setiap acara ceremonial di Kota Bengkulu, seperti acara penyambutan tamu-tamu penting dan sebagainya.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas, dapat dirumuskan beberapa permasalahan yakni “Bagaimana perkembangan musik dol di kota Bengkulu”. Maka penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bagaimana perkembangan musik dol di kota Bengkulu.

2. Kajian Pustaka

  1. Adrian Asthon, The Bass Handbook, The Back Beat Book, San Francisco, 2005. Buku ini menjelaskan berbagai teknik slap yang akan digunakan dalam penerapan ritme dol.
  1. Dan Dean, “Electric Bass; new method vol 1”,  Hal Leonard, Winona, 1982. Berguna sebagai landasan teori dasar teknik permainan bass yang akan diterapkan kedalam pola ritme dol.
  2.   Ronald Pohan, Seni Musik Dol dan Tassa di Bengkulu, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Bengkulu, 1987. Buku ini memberikan penjelasan tentang upacara perayaan Tabot, sejarah masuknya pengaruh Tabot di Bengkulu, penjelasan dan pengenalan alat musik yang digunakan dalam musik dol serta keterlibatan musik Dol dalam perayaan Tabot.

3. Metodologi Penelitian

Dalam penelitian ini, penulis memilih penelitian deskriptif kualitatif sebagai salah satu penelitian yang dipandang baik untuk membantu membahas masalah tersebut, dan memfokuskan   deskripsi          analisis sebagai pilihan yang tepat yang dipakai dalam karya ilmiah ini. Metode deskripsi analisis yang dimaksudkan
dalam penelitian ini adalah menguraikan permasalahan setelah melakukan pengumpulan data yang diperoleh dari hasil penelitian maupun hasil wawancara dilanjutkan dengan mentranskripsikan serta menganalisa dengan pendekatan teori yang berhubungan dengan tulisan ini, kemudian menyusun dalam bentuk tulisan ilmiah.

4. Pembahasan

Bentuk Musik Dol Di Kota Bengkulu
Seiring berjalan waktu, dol mencapai suatu proses pengembangan dan penyelamatan identitas. Cara ini lah yang tepat, agar fungsi dan rasanya masih tetap dirasakan oleh para penikmatnya. Dengan kata lain dibutuhkan suatu pewarisan terhadap generasi-generasi baru bahkan dengan bentuk-bentuk yang baru dalam hal ini bentuk instrument, melodi/ritme dan bentuk pertunjukan serta perkembangannya di Kota Bengkulu.
Dol adalah sejenis beduk yang terbuat dari bongkol tempat akar kelapa yang ditutupi kulit lembu atau kerbau, dan dibunyikan dengan memakai alat pukul yang terbuat dari kayu yang dilapisi kain. Gendang besar ini dibawa oleh orang Benggali dari India bersamaan dengan tabot. Bentuknya seperti tempayan besar, dengan bagian atas dipotong rata dan bagian bawahnya tidak berlubang. Bahannya terbuat dari bonggol kelapa yang sudah tua, namun pada saat ini telah dipakai pula bonggol pohon nangka atau pohon cempedak (Manalu luhut Dkk, 1995 : 35). Dol termasuk dalam instrumen klasifikasi membranophone yaang getaran suara atau bunyinya berasal dari kulit (kulit lembu atau kerbau), dimainkan dengan cara dipukul dengan tangan kanan dan kiri. Tampilan fisik luar dari dol diwarnai dengan corak warna-warna terang seperti merah, hijau dan kuning menyala agar kelihatan lebih menarik. Dalam upacara tabot ada tiga repertoar lagu dol yaitu motif Tamatam, Suwena dan Suweri. Ketiga repertoar lagu ini berperan sebagai musik pengiring dalam upacara tabot khususnya upacara menjara dan melengkapi kebutuhan upacara lainnya.

Fungsi Dol di Kota Bengkulu
Dalam upacara tabot, dol digunakan sebagai musik pendukung dalam upacara. Dol disajikan pada upacara arak sorban, menjara, tabot besanding dan tabot tebuang. Dalam hal ini, dol merupakan bagian dari prosesi upacara yang sangat penting yang tak terpisahkan dari upacara tabot, selain memenuhi kebutuhannya dalam mengiringi rangkaian upacara agar rangkaian upacara tersebut menjadi lengkap. Fungsi pertama dol dalam upacara tabot adalah mengiringi proses kegiatan mengarak sorban. Fungsi dol yang kedua mengiringi kegiatan upacara menjara. Fungsi yang ketiga adalah sebagai musik hiburan dalam upacara tabot besanding. Adapun bentuk acara yang dikonsep oleh panitia pelaksana, yakni berupa komposisi musik yang dikemas dengan reportoar lagu dol dipadu dengan kesenian tradisi di kota Bengkulu. Sajian musik dol lainnya adalah musik iringan tari Melayu Bengkulu, dalam hal ini dol hanya sebagai pelengkap media instrumen dan mengiringi musik dari tari-tarian tersebut. Fungsi yang terakhir adalah mengiringi upacara tabot tebuang. Dalam hal ini musik dol digunakan dalam bentuk arak-arakan oleh masing-masing kelompok tabot. Mereka mengarak tabot dengan diiringi motif-motif dol menuju tempat pembuangan tabot.  Selain fungsinya untuk mengiring          upacara, music dol juga berfungsi menghibur masyarakat  kota Bengkulu yang mengikuti proses tabot tebuang.
Dol sebagai Media Seremonial di Kota Bengkulu
Dol di luar dari konteks upacara tabot, berfungsi sebagai musik yang digunakan untuk mengisi acara-acara yang bersifat umum di Kota Bengkulu. Adapun acara tersebut yakni acara penyambutan tamu-tamu penting, acara ulang tahun kota Bengkulu, acara menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia dan acara-acara besar lainnya di kota Bengkulu. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan, bahwa perkembangan dol terus meningkat dan mengalami kemajuan. serta kehadirannya direspon baik oleh pendukungnya. Dol sebagai musik tradisi yang berfungsi sebagai media seremonial dan menjelma menjadi suatu identitas kesenian dari daerah Bengkulu tersebut, telah mampu memberikan kekuatan musik yang ekspresif dan dinamis dengan ritmenya yang menghentak-hentak sehingga mampu membangkitkan emosi bagi siapa saja yang menyaksikannya.
Adapun bentuk penyajian musik dol sebagai sebuah kebutuhan acara yang bersifat seremonial biasanya tidak terlepas dari reportoar lagu yang digabung dengan repertoar musik tradisi lainnya seperti gendang serunai dan musik gamat melayu. Misalnya pada perayaan ulang tahun kota Bengkulu, oleh para seniman tradisi yang berasal dari kota Bengkulu, musik dol dikemas dalam bentuk komposisi musik yang berangkat dari reportoar lagu yang dipadu dengan kesenian tradisi lainnya. Dalam hal ini agar tercipta sebuah komposisi musik dengan suasana dan konsep yang berbeda dari sebelumnya. Selain itu, sebagai upaya pelestarian kesenian tradisi musik dol agar dapat bermanfaat dan dilestarikan oleh masyarakat Bengkulu.
Dol Sebagai Materi Pembelajaran di Sekolah dan Sanggar
Seiring berjalannya waktu, dol mencapai suatu proses perkembangan berdasarkan fungsi dalam kebutuhannya sebagai musik upacara dan sebagai musik pelengkap acara yang bersifat seremonial di kota Bengkulu. Agar aktifitas kesenian tradisi itu terus berjalan, maka dibutuhkan suatu pewarisan terhadap generasi-generasi baru yang nantiya akan mewarisi kesenian tradisi tersebut.
Adapun bentuk pengembangan dol saat ini adalah digunakan untuk bahan ajar mata pelajaran kesenian dan pelajaran ektrakurikuler SMP dan SMA di kota Bengkulu. Dalam hal ini, penulis mengambil contoh salah satu Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kota Bengkulu. Adapun proses yang diajarkan adalah sebagai berikut.
  1. Mengenai latar belakang sejarah upacara tabot, prosesi upacara tabot, maksud dan tujuan upacara tabot, waktu dan tempat penyelenggaraan upacara tabot.
  2. Mengenai persiapan dan perlengkapan upacara tabot.
  3. Siswa mempelajari tari-tarian dalam upacara tabot                
  4. Siswa   mempelajari motif dol dalam  upacara tabot beserta Lagunya (Tamatam,Suwena, Suweri)  dan  memainkan  melodi dan ritmenya.     
  5. Membuat kerajinan tangan berupa bangunan tabot dan yang berhubungan dengan upacara tabot.

Sebagai  hasil     dari      proses belajar, biasanya setiap akhir pergantian kenaikan kelas diadakan Pentas Seni atau Pensi. Tujuan dari acara ini adalah untuk melihat sejauh mana para siswa memahami dan menguasai budaya tabot. Isi dari acara pentas seni adalah para siswa mempraktekkan bagaimana cara bermain dol dan mempraktekkan tari-tarian tabot yang mereka dapatkan di sekolah.
Berdasarkan penjelasan di atas, pengembangan dol pada hakekatnya adalah upaya pelestarian budaya agar terus hidup dan berkembang. Musik dol sebagai bahan ajar di Sekolah adalah usaha untuk mempertahankan kesenian tradisi upacara tabot agar dikenal oleh generasi muda dan generasi baru berikutnya.
Bentuk lain dari pengembangan musik dol lainnya adalah kegiatan sanggar atau komunitas yang berada dalam wilayah pariwisata kota Bengkulu dan yang berdiri sendiri tanpa campur tangan pemerintah.
Aktivitas yang dilakukan oleh sanggar tersebut adalah berlatih memainkan dol dan melatih tari-tarian dari daerah Bengkulu. Salah satu contoh sanggar yang masih eksis dan sedang gencar-gencarnya mempromosikan kesenian tradisi dol dan kesenian tradisi lainnya di kota Bengkulu adalah sanggar Mayangsari. Dari beberapa sanggar yang ada di kota Bengkulu sanggar Mayangsari memang sedang mendapat perhatian khusus dari pemerintah kota
Bengkulu. Prestasi yang telah diperoleh oleh sanggar Mayangsari yakni mampu memperkenalkan dol kepada masyarakat luar Bengkulu untuk dipelajari sebagai wawasan seni dan sebagai tontonan dari sebuah pertunjukan seni. Proses yang dilakukan oleh sanggar Mayangsari tersebut, juga merupakan cara mempertahankan dan mengembangkan kesenian tradisi musik dol agar tidak punah.

Dol sebagai Sumber Garapan Komposisi Baru

Dalam kurun waktu yang lama musik dol mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhannya. Adanya proses perkembangan itu disebabkan oleh perubahan kebudayaan yang berarti (William Haviland, 1988 : 263). Maksud dari perubahan dalam tulisan ini adalah perkembangan yang berarti bagi para pendukungnya agar kesenian ini dapat terus bertahan dan bermanfaat bagi kesenian itu sendiri. Dol sama dengan musik tradisi lainnya juga harus dapat menyesuaikan dengan lingkungan sekitarnya, sehingga nantinya musik tradisi ini akan terus berkembang dengan baik.
Berdasarkan pemahaman di atas, dol sebagai alat musik tradisi, juga mengalami perkembangan yang akhirnya mengikuti fungsi dan bentuk yang terjadi pada gandang tambua di Pariaman Sumatra Barat. Adapun bentuk-bentuk perkembangan musik dol di kota Bengkulu dapat dilihat dari konsep musik, instrumen, pemain dan tempat penyajiannya. Dalam komposisi, konsep utama musik dol adalah tiga lagu dalam reportoar upacara tabot yang kemudian berkembang sesuai dengan konsep dan keinginan komposer. Pengembangan yang terjadi, berada pada wilayah ritme yakni adanya penambahan motif-motif baru dalam ketiga lagu dol dan penambahan melodi yang bersifat mengiringi ritme dalam komposisi dol. Perkembangan yang terjadi terhadap instrumen dalam komposisi dol yakni adalah penambahan instrumen baru seperti seperangkat dol kecil, gendang buatan yang berasal dari pipa paralon dan berukuran kecil. Sehingga dalam penambahan instrumen tersebut, fluit yang biasanya digunakan untuk memberikan aba-aba, tidak lagi digunakan dalam komposisi dol.
Sumber daya manusia yang dapat bergerak melalui ruang dan waktu, dan bertindak sebagai pelaku seni atau seniman. Dalam sebuah pertunjukan seni, pemain adalah factor pendukungnya. Pemain dapat merasakan adanya kontak batin terhadap sistem norma dan nilai dari suatu kebudayaan serta subjek yang sedang dilakukannya maka pemain akan melakukannya berdasarkan proses yang terus berlangsung dari generasi sebelumnya hingga generasi berikutnya.
Dalam proses tersebut budaya pun berubah oleh karena budaya bersifat dinamis, maka pemain mengikuti alur yang telah terjadi di sekelilingnya. Perubahan ini adalah salah satu cara agar suatu kebudayaan  itu akan terus hidup dan berkembang maka pemain atau sebagai pelaku harus mengikuti alur sesuai dengan kebutuhan komposisi dol.
Sesuai dengan kebutuhannya, dewasa ini bentuk perkembangan dalam segi pemain musik dol, adalah anak-anak dan remaja. Anak-anak dan para remaja lebih menguasai dan mengekspresikan gaya dalam bermain dol. Sementara orang yang telah berumur hanya bertindak sebagai pelatih atau bertindak sebagai pengajar. Hal ini dapat dilihat pada saat permainan dol sedang berlangsung, anak-anak sangat agresif dan bersemangat dan lebih ekspresif dari pada orang-orang dewasa pada umumnya, yang terkesan monoton dan biasa-biasa saja. Umumnya anak-anak yang bermain dol, adalah pelajar dan anggota sanggar. Setiap akhir pekan mereka berlatih menabuh dol untuk mengikuti acara atau festival kesenian di dalam maupun di luar kota Bengkulu. Setelah ditelusuri lebih jauh dorongan semangat yang diciptakan atas pukulan-pukulan yang dinamis akhirnya mengundang para perempuan yang bergelut di dunia seni untuk ikut memeriahkan pertunjukan tersebut. Berdasarkan pengamatan yang terjadi, hal ini mengundang para perempuan untuk   dapat   memainkan      dan mengaplikasikan musik tradisi tersebut.
Pertunjukan dol biasanya dapat dinikmati ketika adanya perayaan upacara tabot oleh karena fungsinya dol sebagai pelengkap dan pendukung dari proses upacara tersebut. Contohnya pada saat menjara, yang intinya adalah acara bertanding dol. Adapun Bentuk pertunjukan dol pada saat upacara tersebut yakni saling mengarak atau saling berkunjung antara kelompok tabot yang paling tua dan kelompok tabot yang paling muda. Dalam kompetisi ini, mereka saling memperlihatkan ketangguhan dalam bermain dol. Pertunjukan dol tersebut biasanya diadakan di lapangan terbuka di Kota Bengkulu ( lapangan merdeka Bengkulu).
Namun kurun waktu sepuluh tahun ini, dol menjelma menjadi instrument yang lebih berenergi dan sangat agresif. Hal ini tampak jelas pada acara festival music di solo berapa tahun yang lalu. Ketika instrument ini bergabung dengan music yang lebih bersifat popular seperti music pop dan music jazz. Pertunjukan komposisi dol tersebut diringi oleh gitar elektrik, gitar bass serta seksophone. Dalam pertunjukan tersebut juga diisi dengan atraksi angkat dol. Maksudnya adalah beberapa pemain menabuh dol dengan cara mengangkatnya. Hal ini sungguh berbeda dari biasanya dan tak tampak bahwa instrumen tersebut berasal dari upacara ritual.
Pertunjukan dol dengan kemasan yang lebih menarik tersebut ternyata juga diikuti oleh regenerasi baru (anak-anak). Mereka bermain pada acara festival anak Nusantara di Taman Mini Indonesia. Permainan motif ritme dan pukulan dol yang bersifat dinamis dan bersemangat juga canda tawa mereka menambah natural  komposisi  dol  tersebut.  Pada  saat  itu juga tampak adanya bentuk perkembangan pada instrumen dol yakni terdapat dol yang ukurannya kecil dan berfungsi sebagai pelengkap dalam komposisi dol bentuk garapan baru.
Pada akhirnya dol yang tadinya digunakan sebagai media spritual untuk mendukung upacara tabot, beralih fungsi untuk mengisi acara-acara yang sifatnya ceremonial dan sebagai hiburan. Hal ini tidak jauh bedanya dengan gandang tambua yang berada di Pariaman yang sudah sejak lama beralih fungsi sebagai kesenian tradisi masyarakat Pariaman khususnya dan Sumatra barat pada umumnya. Sehingga makna dan fungsi yang awalnya sebagai ekpresif dari perang yang terjadi di karbela telah berubah menjadi fungsi hiburan bagi masyarakat pendukungnya.

5. Kesimpulan

Hasil dari pembahasan Perkembangan Musik Dol di Kota Bengkulu, melahirkan berbagai makna yang terkonteks dalam perilaku-perilaku budaya. Hal ini disebabkan oleh suatu perubahan yang menginginkan music tradisi itu berkembang     sesuai dengan kebutuhannya. Untuk melihat perkembangan terhadap prilaku tersebut, maka dapat disimpulkan berdasarkan fungsi dan bentuknya. Antara lain sebagai berikut.


  1. Musik dol digunakan sebagai sarana ritual
  2. Musik dol sebagai presentasi estetis dan pengikat solidaritas antar sesama masyarakat di kota Bengkulu serta sebagai upaya pewarisan.
  3. Musik dol sebagai media seremonial di kota Bengkulu
  4. Musik dol sebagai materi pembelajaran di Sekolah dan Sanggar
  5. Musik dol sebagai sumber garapan komposisi baru

Perkembangan yang terjadi pada dol akhirnya mencapai suatu kepuasan bagi pemerintah kota Bengkulu, dan bagi masyarakat pada umumnya. Hal ini dapat dilihat dari unsur-unsur estetisnya dan pengikat solidaritas antar masyarakat kota Bengkulu serta sebagai musik dan instrumen yang memberikan warna baru terhadap pengembangan musik tradisi. Sehingga terwujudnya pelestarian dan pengembangan budaya agar kesenian tradisi tersebut dapat terus bertahan.
Selain itu dapat diketahui bahwa perkembangan yang terjadi pada dol bisa membawa dampak positif dan membuka peluang yang bagus bagi para seniman untuk lebih bebas dalam berkarya. Walaupun tadinya dol hanya digunakan pada acara ritual, namun dengan perkembangan tersebut dapat mencegah adanya penurunan atau krisis kepunahan terhadap instrumen atau kesenian tradisi.

DAFTAR PUSTAKA

Asril.2002. Pertunjukan Gandang Tambua dalam Upacara Ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat.Tesis,Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.
Asril, Muctar . 2004. Upacara Tabuik dari Ritual Heroik ke Pertunjukan Heriok dalam Seni Tradisi
Menantang Perubahan. Padangpanjang: Bunga Rampai STSI.
Hadi  Y,  Sumandyio.  2006.  Seni  Dalam Ritual Agama. Yogyakarta: Pustaka.
Hanefi.            2002. Buku Ajar Musikologi Nusantara III. Padangpanjang: Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI).
Martani, Marjani dkk. 1976. “Ensklopedia Musik dan Tari Daerah Sumatra Barat Padang,” dalam Studi Komparatif Musik Dol dalam Upacara Tabot Dikota Bengkulu oleh Luhut Manalu DEPDIKBUD. Bengkulu: Taman Budaya.